KODE IKLAN DFP 1 Pidato Memperingati Isra Miraj Nabi Saw | Ruang Belajar siswa kelas 3

Pidato Memperingati Isra Miraj Nabi Saw

KODE IKLAN 200x200
KODE IKLAN 336x280
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wa bihi nasta'iinu 'alaa umuuriddunya waddiin, wash shalatu was salamu 'alaa asyrafil anbiyai 'al mursalin, wa 'ala aalihi wa ashabihi ajma'in, amma ba'du :    

Saudara, hadirin dan hadirat yang saya hormati. 
Pertama-tama perkenankan saya mengajak para hadirin dan hadirat sekalian, marilah kita bersyukur kepada Tuhan swt. atas rahmat, taufiq dan petunjuk-Nya, kita pada malam hari ini sanggup berkumpul dan bertemu muka di daerah ini dalam rangka memperingati insiden besar yang pernah dialami Nabi Muhammad saw. yaitu Isra' Mi'raj Nabi saw.    

Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw. itu terjadi di bulai Rajab, tepatnya tanggal 27 Rajab. Perjalanan itu dimulai dan Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Jerussalem (Palestina), di malam hari. Selanjutnya perjalanan dia dilanjutkan ke tujuh pelata langit, hingga ke Sidratul Muntaha, diteruskan hingga ke Mustawa, suatu daerah yang tidak bisa dijangkau oleh kecanggihan teknologi manapun. Sutu pelataran yang tidak diketahui hakekatnya oleh siapapun kecuali Nabi saw. bersama Tuhan swt. lalu dia kembali lagi ke Masjidil Haram. Pada Malam itu Tuhan swt menampakkan cahaya Dzat-Nya di hadapan Rasulullah saw. seraya, melimpahkan samudera karunia dan kenikmatan-Nya, dalam tempo yang sangat singkat.

Peristiwa Isra' Mi'raj yang begitu penting dan monumentalitu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' berikul ini: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nyapada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari gejala (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia yaitu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."(QS. Al-Isra': 1).

Saudara, hadirin dan hadirat yang saya hormati. 
Puncak tertinggi dari perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw. yaitu menghadap pada wajah Tuhan Rabbun Jali. Kiranya dapatlah kita ilustrasikan, bahwa di dalam sebuah perjalanan kehormatan yang sangat penting, biasanya di akhiri dengan suatu insiden yang sangat mantap di dalam hati sanubari yaitu menghadap (audence) pada kepala Negara dari negeri yang dikunjungi, sebagai pemegang puncak kekuasaan dalam negeri tersebut. Begitu pula perjalanan Nabi saw. yang begitu misterius dan begitu monumental yang sangat tinggi nilainya, maka insiden itu diakhiri dengan insiden puncak dari segalanya, yaitu audience menghadap secara pribadi kepada Tuhan swt. Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, di suatu daerah yang paling luhur yang dinamakan dengan Sidratul Muntaha, di dalam selubung suasana suci dalam lautan cahaya keagungan Ilahi yang tidak diketahui daerah dan waktunya, pertemuan yang sakral dan penuh syahdu antara Rasul terkasih, Muhammad saw. bersama Tuhannya, Tuhan Rabbun Jali. Muhammad diberi kesempatan melihat Tuhan swt. secara langsung, di suatu daerah dansituasi yang tidak sanggup digambarkan oleh manusia, yang hanya diketahui oleh Rasulullah saw, sendiri bersama Tuhan swt. Dalam obrolan suci dengan Tuhannya itu, dia mendapatkan perintah shalat lima waktu dalam sehari semalam. Perintah shalat ini, berbeda dengan perintah ibadah-ibadah yang lain, alasannya shalat diterima oléh dia secara pribadi dari Tuhan swt. dalam suasana suci, sakral dan sangat agung.

Saudara, hadirin dan hadirat yang saya hormati. Peristiwa isra' Mi'raj Nabi saw. itu menjadi ujian berat bagi umat Islam di kalangan para sobat pada waktu itu. Perdebatan sengit pun terjadi, hingga ada di antara mereka yang hingga murtad alasannya apa yang dialami Nabi saw. itu dianggap tidak masuk kebijaksanaan dan tidak mungkin terjadi. Sementara sebagian yang lain mempercayai dengan penuh hati apa yang dialami Nabi saw. itu. Bagi kelompok sobat orang kedua ini, kepercayaan mereka semakin kokoh dankuat. Sedangkan orang-orang kafir tidak hanya mengingkari apa yang barudialami Nabi saw. bahkan menuduh Muhammad telah benar-benar gila.

Peristiwa Isra' Mi'raj ini, hendaklah bisa menggerakkan renungan kita mengenai corak intelektualitas kita dan apa yang selama ini kita jadikan sebagai ukuran dalam menilai suatu kebenaran. Hal ini menjadi penting kita lakukan untuk menjaga keimanan kita supaya tidak terjadi kegoncangan dan pengikisan.

Sebagai insan kita harus menyakini dengan penuh kesadaran akan kemahakuasaan Tuhan swt. sehingga kita sadar betul akan posisi kita sebagai makhluk yang sangat lemah dan mempunyai banyak keterbatasan. Karena insan mempunyai kecenderungan menyombongkan intelektualitasnya, merasa serba tahu dan serba bisa. Padahal apa yang telah diketahui itu hanyalah sedikit, sementara terhadap apa yang berada di luar jangkauan kebijaksanaan mereka yang sangat terbatas itu, mereka tidak mempercayainya. Sampai ketika inipun ada sebagian insan yang hanyamempercayai hal-hal yang rasional dan sanggup dijangkau oleh indera dan kebijaksanaan mereka saja. Sedangkan hal-hal mistik yang tidak terjangkau oleh kebijaksanaan pada keberadaannya telah diinformasikan oleh Nabi saw. niscaya adanya, mereka menerimanya dan mempercayainya dengan setengah setengah atau bahkan mengingkarinya sama sekali.

Ketika seseorang telah hingga pada contoh pikir menyerupai itu, tanpa sadar bekerjsama mereka telah berada pada tingkat keimanan yang, sangat tipis atau bahkan lenyap sama sekali. Mereka tidak lagi menyadari, sebagai muslim sesungguhnya seharusnya menentukan keyakinan yang kokoh dan berpengaruh terhadap hal-hal yang bersifat mistik yang telah diinformasikan oleh Al-Qur'an yang tak bisa disentuh dan dijangkau oleh kebijaksanaan mereka. Terhadap orang-orang yang berpola pikir menyerupai itu, sesungguhnya telah disebutkan di dalam Al-Qur'an. Tuhan swt. berfirman yang artinya: "Dan apabila dikatakan (kepadamu), sesungguhnya kesepakatan Tuhan itu yaitu benar dan hari kebangkitan itu tidak ada keraguan padanya. Niscaya kau menjawab kami tidak tahu apakah hari tamat zaman itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak menyakininya."(Q A1-Jatsiyah: 32).

Pola pikir semacam itu terbentuk, akhir perilaku apriori terhadap sesuatu yang tidak sanggup dijangkau oleh nalar. Sehingga hanya kekuatan dan kemampuan kebijaksanaan yang dijadikan tolak ukur dalam menilai kebenaran sesuatu. Padahal sesungguhnya Tuhan telah menegaskan, apapun yang diberitakan Al-Qur'an itu, sedikitpun tidak mengandung.

Saudara, hadirin dan hadirat yang saya hormati. 
Dengan memperingati insiden Isra' Mi'raj Nabi saw. ini, keimanan kita semakin berpengaruh dan mantap, amin. Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafannya.

Billahitaufiqwal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahin wabarakatuh.
KODE IKLAN 300x 250
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==
KODE IKLAN DFP 2
KODE IKLAN DFP 2