Assalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh
Para hadirin yang saya muliakan.
Lisan merupakan bab dari organ badan yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan yang lain, dengan diberikannya lisan oleh Tuhan Swt. kita semestinya mempergunakannya dengan semestinya, alasannya lisan merupakan kunci dari segala macam persoalan. dalam Istilah yang berlaku "Mulutmu Harimaumu" Maksudnya kata bijak tersbut merupakan sebuah warning bagi kita untuk mempergunakan lisan kita dengan baik, alasannya jikalau tidak maka akan menjadi boomerang bagi diri kita, mengakibatkan sebuah kepastian bahwa ancaman itu awalnya tiba dari lisan kita, Kenapa? alasannya lisan bersentuhan eksklusif dengan obyek yang kita tuju, maka dari itu marilah kita jaga lisan kita semoga senantiasa kita terhindar dari marabahaya.
Para hadirin yang dimuliakan Tuhan Swt.
Tuhan berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kau sekalian kepada Tuhan dan katakanlah perkataan yang benar, pasti Tuhan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Tuhan dan RasulNya, maka bahu-membahu ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]Dalam ayat lain disebutkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, alasannya bahu-membahu sebagian tindakan berprasangka itu ialah dosa. Janganlah kau mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kau sebahagian kau menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kau memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kau merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Tuhan Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]Tuhan juga berfirman.وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Dan bahu-membahu Kami telah membuat insan dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih bersahabat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]Begitu juga firman Tuhan Ta’ala.وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ اَفَرَاَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنَّ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِاغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَهُ“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sobat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal wacana saudaramu yang tidak ia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kau telah melaksanakan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kau katakan itu tidak ada padanya, berarti kau telah berdusta atas dirinya”Tuhan Azza wa Jalla berfirman.وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah kau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ“Sesungguhnya Tuhan meridhai kalian pada tiga kasus dan membenci kalian pada tiga pula. Tuhan meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Tuhan semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Tuhan seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Tuhan membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ“Setiap anak Adam telah mendapat bab zina yang tidak akan sanggup dielakkannya. Zina pada mata ialah melihat. Zina pada indera pendengaran ialah mendengar. Zina pengecap ialah berucap kata. Zina tangan ialah meraba. Zina kaki ialah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang memiliki harapan angan-angan, dan kemaluanlah yang menandakan semua itu atau mengurungkannya” [2]Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Seorang muslim ialah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

Masih banyak lagi nash dan dalil-dalil yang berkaitan dengan menjaga lisan kita, pada pada dasarnya ialah kita mesti berhati-hati dengan memakai lisan kita, banyak terjadi ditengah sosial masyarakat karena tidak menjaga lisan, apalagi dikala ini tersedia alat komunikasi yang serba canggih, dengan demikian penggunakan lisan sangatlah mudah menyerupai memakai telephone dan lain sebagainya, tidak hanya hingga disitu. Namun, cobalah kita berfikir sejenak wacana lisan kita, dan berfikirlah apakah perkataan kita yang sudah kita lontarkan sudah melukai seseorang, maka itulah pentingnya untuk kita segera bertaobat dan segera menarik perkataan-perkataan tersebut.
Lidah itu tajam bahkan lebih tajam dari pedang, istilah umum ini seringkali kita dengar, bagaimanakah semoga kita gunakan lisan kita dengan semestinya, salah satunya, berhati, bertuturlah dengan lemah lembut, ikuti kata hati alasannya verbal terkadang berbeda dengan hati, demikian kultum Pentingnya menjaga Lisan semoga kita semua sanggup menjaga lisan, ucapan kita serta penuh dengan perkataan-perkataan cinta dan kedamaian.
Wassalamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh
